Kimci 7

Love is love

SEMIFINAL YUASA SUBL SEASON 3

Igen Wahang

Hari komedi Nasional

Hari Komedi Nasional diperingati setiap tanggal 27 September.Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan resmi menetapkan tanggal tersebut karena bertepatan dengan hari lahir maestro komedi legendaris Indonesia, Bing Slamet. Penetapan ini menjadi bentuk apresiasi resmi terhadap kontribusi para seniman komedi dalam kebudayaan nasional.Apakah Anda ingin tahu sejarah penetapan hari ini atau profil singkat Bing Slamet?

ORANG MISKIN MAU BUNUH DIRI AJA SUSAH!!!!

gaspol

Elon Musk Belajar ke Budiman Sudjatmiko

AWAL mula seni standup comedy

 

Seni stand-up comedy (komedi tunggal) bermula dari tradisi pertunjukan teater abad ke-19 di Eropa dan Amerika Serikat, yang kemudian berevolusi menjadi aksi komedian solo di atas panggung. Seni ini memisahkan diri dari format komedi tradisional dengan ciri khas komika yang berbicara langsung kepada penonton tanpa properti besar, kostum karakter, atau iringan tari. 

Berikut adalah garis waktu dan tahapan penting perkembangan stand-up comedy di dunia hingga masuk ke Indonesia:

1. Era Teater Vaudeville dan Minstrel (Abad ke-19 - Awal Abad ke-20)

  • Pertunjukan Varietas: Di Amerika Serikat dan Inggris, cikal bakal komedi tunggal tumbuh dari pertunjukan Minstrel dan Vaudeville. Vaudeville adalah teater rakyat yang menggabungkan berbagai jenis hiburan seperti musik, sulap, acrobatic, dan sketsa komedi. [1, 2, 3, 4, 5]
  • Komedian Di Depan Tirai: Di sela-sela pergantian kru panggung untuk mengganti dekorasi, seorang komedian biasanya diminta maju ke depan tirai (front-cloth) untuk menghibur penonton dengan monolog pendek atau lelucon agar penonton tidak bosan. 

  • Pionir Awal: Tokoh seperti Artemus Ward dan Charlie Case disebut-sebut sebagai penampil awal yang benar-benar berdiri sendiri menyampaikan banyolan langsung tanpa kostum berlebihan atau properti teater. [1]

2. Perkembangan Klub Malam dan Komedi Monolog (1930 - 1950-an)

  • Lepas dari Teater: Memasuki era 1930-an, pertunjukan vaudeville mulai meredup dan digantikan oleh era klub malam. Pemilik klub malam (yang saat itu banyak dikuasai oleh jaringan mafia di AS) menyediakan panggung kecil bagi para komedian. [1]
  • Bob Hope dan Format Modern: Komedian legendaris Bob Hope membawa perubahan besar dengan membawakan monolog yang fokus pada lelucon satu kalimat (one-liners) mengenai politik dan kehidupan sehari-hari. Gaya monolog santai ini menjadi cetak biru bagi format stand-up comedy modern. [1, 2]

3. Era Kritik Sosial dan Booming Klub Komedi (1960 - 1980-an)

  • Kritik Sosial & Counter-Culture: Pada era 1960-an, tokoh seperti Lenny Bruce mengubah wajah komedi menjadi lebih berani. Ia menggunakan panggung untuk membahas topik sensitif seperti politik, agama, seks, dan kritik sosial. Jejak ini diikuti oleh komedian legendaris lain seperti Richard Pryor dan George Carlin. [1, 2]
  • Ledakan Industri (Booming Era): Tahun 1970 hingga 1980-an menjadi masa keemasan televisi, yang ikut mendongkrak popularitas komedian seperti Steve Martin dan Jerry Seinfeld. Ratusan klub komedi khusus (comedy club) mulai menjamur di seluruh penjuru Amerika Serikat. [1]

4. Masuknya Stand-Up Comedy ke Indonesia

  • Perintis Awal (1990-an): Jauh sebelum populer, Indonesia sebenarnya sudah memiliki tradisi lawak tunggal tradisional (seperti ludruk atau tokoh pelawak solo). Namun, format stand-up comedy barat pertama kali diperkenalkan secara khusus lewat panggung Comedy Cafe milik Ramon Papana di Jakarta pada tahun 1997. Tokoh lawak seperti almarhum Taufik Savalas juga pernah menampilkan format komedi tunggal di televisi. [1, 2, 3, 4, 5]
  • Era Digital & Komunitas (2010 - Sekarang): Stand-up comedy modern meledak di Indonesia sekitar tahun 2011. Berawal dari video penampilan Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono di YouTube yang viral, dibentuklah komunitas Stand Up Indo pada 13 Juli 2011 oleh Ernest Prakasa, Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Ryan Adriandhy, dan Isman H. Suryaman. Kompetisi televisi seperti Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di Kompas TV menyebarluaskan seni ini hingga melahirkan ratusan komunitas komika di seluruh Indonesia. [1, 2, 3, 4]

chef gadungan !

 

Standup Comedy Terbaru Mongol Stres

Parto Marah Diroasting Marshel!

Pak Yusub

 

HERI HOREH

Douglas Lim

Mother in Law

Jui Purwoto & Sammy Notoslimboy

Kumar

 

FORMULA CAK LONTONG NGELAWAK,

 

Adi Maulana, Buat Tawa Pecah di Kampung Hukum

Modal 15 menit jadi satu jokes?

PANDJI PRAGIWAKSONO & SEGALA NIATNYA

Marshel Widianto

musik VS standup comedy

 Di Indonesia, musik jauh lebih disukai secara umum dibandingkan stand-up comedy sebagai bentuk hiburan.

Tidak ada survei langsung yang membandingkan keduanya secara head-to-head (seperti "pilih salah satu: stand-up atau musik"), tapi dari data survei dan tren yang ada, musik mendominasi preferensi hiburan masyarakat:
Genre musik pop saja disukai sekitar 78% orang Indonesia (berdasarkan laporan Jakpat 2023, dan tren serupa terus berlanjut).
Minat nonton konser musik sangat tinggi: sekitar 77% masyarakat Indonesia doyan nonton konser (survei Populix 2024), termasuk band lokal (51% responden suka).
Konser dan music festival jadi live event paling populer di kalangan Gen Z dan milenial (laporan IDN Times Gen Z Report 2024 dan Millennial Report 2024).
Sementara stand-up comedy:
Populer banget di kalangan anak muda/milenial/Gen Z, terutama sebagai hiburan relatable dan kritik sosial.
Ada laporan bahwa sekitar 70% milenial lebih suka habiskan waktu luang nonton komedi/stand-up show daripada aktivitas lain (dari VortexNews 2025), tapi ini khusus milenial dan bukan dibandingkan langsung dengan musik.
Stand-up comedy sering jadi pilihan live event kedua atau ketiga setelah music concert (misalnya di survei IDN Times, music concert nomor 1, sport match atau stand-up comedy lebih rendah).
Secara keseluruhan, kalau dipaksakan estimasi berdasarkan data tren hiburan di Indonesia:
Musik (termasuk dengerin lagu, konser, festival) → disukai mayoritas, mungkin 70-80%+ populasi secara luas.
Stand-up comedy → lebih niche, kuat di kalangan muda urban, tapi persentasenya lebih rendah, mungkin 20-40% yang aktif suka/nonton rutin (terutama di kota besar seperti Jakarta).
Jadi, musik yang lebih disukai orang secara umum. Stand-up comedy lagi naik daun dan "menguasai" sebagian hiburan mainstream belakangan ini (seperti dikatakan beberapa artikel detikcom 2024), tapi tetap kalah dominan dibanding musik yang jadi hiburan sehari-hari hampir semua orang. Kalau kamu tanya preferensi pribadi atau di circle tertentu, bisa beda ya! Kamu sendiri lebih suka yang mana?

KompasTV Gelar Audisi SUCI 12

 

Battle Comedy

Ai

@rizkonalmuharram

♬ suara asli - Rizkon AL Muharram

setelah hilang 53 milyar

hai antek2 Asong

View on Threads

Santa is Real?

Faiqo Roman

@11juta Ternyata solusi untuk menekan angka pengeluaran bulanan adalah…..masak #standupcomedy #standupcomedyindonesia #openmic #perempuan #masak ♬ original sound - Faiqo roman

ijazah palsu

View on Threads

Impersionate Presiden Trump!

Polemik pertunjukan Mens Rea Panji Pragiwaksono

call boy

Materinya satire banget !

@somasi_community

standup comedy by dava - standup indo jaksel - saya pengguna mata palsu yg aktip

♬ October to thousand to four - Uggew
abcs